| |
|
Ruth Sahanaya Jatuh Cinta Pada Playboy Aku
Siapakah Jeffry, yang sering disebut-sebut Uthe? Banyak yang tak setuju ketika gadis lugu ini melabuhkan cintanya pada Jeffry Waworuntu.
Maklum, aktor dan fotomodel yang tampan itu punya reputasi sebagai playboy berat.
MENGIKAT JANJI SETIA
Setelah tiga tahun melakukan pengenalan secara lebih mendalam, akhirnya Uthe dan Jeffry mantap untuk bersatu.
Ketika melamar Uthe, Jeffry memeluk kekasihnya, lalu keduanya menangis bersama sambil mengucapkan doa syukur.
Saat itulah Jeffry merasa benar-benar yakin bahwa Uthe adalah ‘tulang rusuk’-nya.
Jeffry yakin, Tuhan telah menjawab doa mereka.
“Ya, apa lagi yang saya cari? Walaupun, jujur saja, secara fisik dia bukan tipe ideal saya sambil tertawa Jeffry mengaku bahwa sesungguhnya ia menyukai wanita bertubuh tinggi dan berwajah indo karena ia sendiri punya darah Belanda.
Namun, setelah jalan bareng dan bicara sama dia, hati saya langsung terpikat,” ujar Jeffry, terus terang.
Akhirnya, pada 7 Mei 1994, keduanya mengikat janji suci di Gereja GPIB Bethel, Bandung.
Di mata Jeffry, walau tubuhnya mungil dan wajahnya imut kayak anak kecil, Uthe ternyata sangat dewasa.
“Baik dalam pemikiran, dan terutama, hatinya.
Dia selalu berpikir positif terhadap saya.
Inilah yang membedakan Ruth dari wanita-wanita lain yang pernah mampir di hati saya,” tutur Jeffry, yang selalu memanggil istrinya sesuai namanya, Ruth.
Bukan Uthe seperti sapaan banyak orang.
Dilimpahi kepercayaan sedemikian besar, tentu saja Jeffry merasa nyaman.
Ia mengaku, hatinya adem berada di dekat Uthe.
Apalagi, istri dan keluarganya sangat religius.
Satu hal yang membuat Jeffry merasa sangat respek adalah sikap ayah Uthe yang sabar, dan tak pernah lupa menjadikan doa sebagai rutinitas keluarga sehari-hari.
“Saya belajar banyak dari Ruth dan keluarganya.
Selain merasa ‘terpanggil’ untuk lebih mengenal Tuhan, saya juga berusaha lebih menghargai dan menghormati orang yang lebih tua,” tambah Jeffry, penuh syukur.
Lantas, apa pula komentar Uthe tentang Jeffry?
Kalau bicara soal body dan wajah Jeffry, Uthe dengan jujur merasa sangat bersyukur.
Ia berhasil memiliki suami yang sesuai dengan pria impiannya.
“Cinta Jeffry merupakan anugerah terbesar bagi saya,” cetus Uthe, apa adanya.
Selain itu, sikap Jeffry yang terbuka, ekspresif, dan sangat romantis, juga sering membuat Uthe ‘melayang’ karena tersanjung.
Pendeknya, Uthe benar-benar merasa lengkap sebagai wanita.
Si mungil ini bahkan tak malu-malu mengatakan bahwa Jeffrylah yang telah mengubah total penampilan dirinya.
Ibarat pelukis, Jeffry telah memberi sentuhan warna feminin dan sensual pada sosok Uthe yang semula tomboi dan agak sembarangan, sehingga berhasil menonjolkan feminitasnya.
Rambut Uthe yang biasanya cepak dan ‘laki banget’, mulai dibiarkan memanjang.
Begitu pula gaya busana sehari-harinya.
Dulu, ke mana-mana Uthe paling suka pakai celana jins dan T-shirt.
Namun, setelah berdampingan dengan Jeffry, dengan senang hati ia mulai belajar mengenakan rok.
“Jadi, sekarang saya tidak lagi dandan kalau hanya akan show.
Paling tidak, saya mulai belajar memoles diri demi suami, dan tentu saja, untuk diri sendiri,” ujar Uthe, tertawa lebar.
Ternyata, tidak hanya Jeffry yang ketularan ‘setrum positif’ dari sang istri.
Uthe pun mengaku banyak belajar dari Jeffry.
“Apalagi, setelah menjadi suami- istri, kami kan sudah menjadi satu daging,“ katanya, mengutip kalimat dalam janji pernikahan.
Selain rasa percaya dirinya makin besar dulu ia mengaku sering merasa minder, Uthe pun menjadi lebih ekstrover.
Terutama ketika harus menunjukkan rasa sayangnya kepada sang suami.
“Dulu saya orangnya cuek.
Jangan harap, deh, saya yang mulai memeluk duluan.
Memegang tangan Jeffry saja malunya setengah mati.
Beda banget dengan Jeffry, yang tidak segan-segan menunjukkan rasa cintanya di muka umum.
Tapi, lama-kelamaan, saya berhasil menjadi orang yang lebih romantis.
Dan, yang tak kalah penting, sekarang saya tidak lagi buru-buru kabur dari panggung setelah pertunjukan berakhir, dan hanya berani mengucapkan ‘selamat malam’ atau ‘terima kasih’ saja kepada penonton….
”
Diikat janji suci perkawinan membuat Uthe dan Jeffry sama-sama belajar menjadi ‘manusia baru’.
Padahal, seperti pasangan lainnya, mereka pun tak luput dari masa-masa penyesuaian diri yang penuh pergolakan.
Tahun-tahun pertama tetap saja merupakan tahun yang sulit, meski tak sampai menimbulkan krisis berarti.
“Kami tidak mungkin menghindar dari konflik, namun sedapat mungkin kami berusaha melepaskan ego.
Dibandingkan Uthe yang baik hati, saya orangnya lebih keras.
Tapi, untunglah, masing-masing mau saling mengalah dan membuka diri,” papar Jeffry, jujur.
Kehadiran kedua putri mereka, Nadine Emanuella Waworuntu kini 11 tahun dan Amabel Odelia Waworuntu 5,5 tahun, membuat hubungan Uthe dan Jeffry makin ‘ketemu polanya’.
Kehadiran anak-anak juga mampu meredam perselisihan kedua orang tua mereka.
“Wajar saja kan, kalau sesekali kami berselisih paham.
Tapi, kehadiran anak-anak ibarat kibaran bendera perdamaian di tengah perang,” tutur Uthe, tersenyum.
Sebenarnya, ia ingin sekali meniru kedua orang tuanya.
“Papi dan Mami saya dulu kalau bertengkar mestinya ngumpet-ngmpet.
Buktinya, anak-anaknya tak pernah tahu.
Sayangnya, hal ini masih sulit diterapkan dalam keluarga saya,” ungkap Uthe, dengan mimik menyesal.
Padahal, biasanya yang membuat mereka cekcok hanyalah hal-hal sepele.
Uthe mengaku, ia memang sering moody, terutama saat sedang datang bulan.
Dia bisa tiba-tiba ‘meledak’ tanpa sebab.
Di lain pihak, Jeffry juga sering bersikap emosional, karena pada dasarnya ia punya temperamen yang kurang sabar.
Kabarnya, kalau Jeffry sedang kesal, semua orang di sekitarnya bisa ‘kena getahnya’.
Kalau sudah berada di titik panas, untuk meredakan emosi yang telanjur naik, biasanya mereka akan saling mengingatkan tentang janji perkawinan yang telah mereka ucapkan di hadapan Tuhan.
“Kami telah berjanji untuk menerima pasangan kami ‘apa adanya’.
Dengan berusaha mengingat hal-hal positif ketimbang yang negatif, biasanya suasana akan cepat mereda,” tutur Uthe, yang lebih memilih diam saat suaminya sedang emosional.
Setelah keduanya yakin dapat selalu seiring sejalan, maka sejak tahun 1996, Jeffry resmi menjadi manajer Uthe.
Effi S.
Hidayat kontributor, jakarta
|
|
|